 | What do you want to know? | Mar 1, 2007 |
I like a bit of everything. I love my life and I love to read. maybe I like you as well Pertama kali bekerja di PT. IPRI, saya nyaris tidak pernah minum kopi. Maklumlah, baru pertama kalinya bekerja, jadi belum ada kebiasaan minum teh-kopi sama sekali di kantor. Selain itu, kopi yang disediakan adalah Kopi kapal api, walaupun disebut-sebut sebagai kopi paling wangi sedunia, saya tidak biasa minum kopi tubruk. Jika saya ingin minum kopi susu, saya biasanya menunggu higga break peserta training selesai dan minum dari dispenser khusus kopi yang diperuntukkan bagi peserta training. Lumayan juga, biasanya jika beruntung kami memperoleh kue-kue sisa coffe break. Tapi disini kita harus hati-hati dalam mengkonsumsi makanan. Sebab pemilik perusahaan ini paling tidak suka kita makan di ruangan kantor, apalagi mengkonsumsi jatah break peserta. Bisa-bisa kita disemprot ditempat kalau ketahuan. Padahal kalau coffe-break sudah selesai, kue dan kopi itu tetap harus dihabiskan tho?! Di PT. GI kopinya sedikit lebih beradab, berhubung CEO nya maunya minum kopi instant dan jumlah pekerja di perusahaan ini masih dibawah 30 orang, maka ia tidak segan-segan mengalokasikan dana buat beli kopi instant. Tapi karena dia merasa tidak menggunakan creamer, maka ia melarang penggunaan creamer kecuali untuk beberapa tamu penting yang memang suka minum kopi susu. Saya dan teman saya terus terang sering diam-diam mengambil creamer yang terlarang ini, asal jangan ketahuan GA yang galak itu. Kalau saya ingat-ingat, lucu juga bagaimana saya harus main kucing-kucingan dengan GA hanya untuk menggunakan creamer. Waktu saya kerja di SLI, saya jarang minum kopi karena kembali, kopi yang disediakan untuk karyawan adalah Kopi Kapal Api. Berhubung saya bukanlah pecandu kopi, hanya occasional drinker, saya memilih untuk tidak meminum kopi selama disana. Jika saya sedang ingin minum kopi, maka saya selalu menyiapkan bungkusan kopi susu instant di tas saya. Sebetulnya kopi instant dan creamernya ada, hanya saja disembunyikan oleh Office Girl Sara Lee, hanya diperuntukkan untuk Direktur atau tamu direktur. Tak lama saya disana, Bagian HRD membeli sebuah mesin kopi seharga 21 juta rupiah. Mesin kopi canggih yang biasa digunakan di caffe ini menggunakan biji kopi import seharga 225.000 Rupiah per Kg belum termasuk PPN. Biji kopi itu hanya akan digiling saat kita menekan tombol untuk membuat kopi, jadi dikatakan akan membuat kopi terasa lebih enak dan wangi. Mesin kopi ini tentu saja bukanlah sesuatu yang bisa dinikmati oleh seluruh karyawan SLI. Sekali lagi, hanya Direktur, tamu direktur serta karyawan yang sedang mengikuti rapat bersama direktur yang berhak minta kopi istimewa ini. Mesin kopi ini juga sanggup membuat cappuccino lengkap dengan buihnya. Hal ini membuat Direktor Operasional, menyatakan bahwa kita harus punya stok susu segar di kulkas jika ia ingin meningkati secangkir Cappucino sewaktu-waktu. Hehehehe…saya senyum-senyum saja mendengar perintah ini. Setahu saya SLI tidak semurah ini untuk masalah makan minum. Setidaknya manajemen boleh merencanakan, pada saat operasional seringkali tidak sesuai maunya manajemen. Saat mengobrol dengan salah satu orang lama di SLI, beliau juga mengiyakan pendapat saya. Sebetulnya yang aneh bukan atasannya, tapi justru orang-orang dibawahnya. Manajemen bisa memutuskan untuk membeli mesin kopi canggih seharga 21 juta, tapi bagian belakangnya, para Office Girls/Boys malah sibuk menyembunyikan creamer yang jika dibandingkan harganya dengan mesin kopi ibarat kacang goreng. Ironis memang… Sekarang saya bekerja di PWC. Sebagai newbie, saya lumayan norak atas segala fasilitas yang tersedia di sini. Selalu saya bandingkan dengan tempat kerja saya terdahulu. Sekarang saya bisa menertawakan kebijaksanaan kopi di tempat-tempat lama saya bekerja. Disini disediakan 3 jenis kopi. Berhubung saya memang cuma mau kopi susu biasa, jadilah itu yang selalu saya buat. Selain kopi, juga ada teh, nutrisari dan tidak lupa gula diet bagi para penderita diabetes. Selain minuman, juga disediakan cemilan buat iseng dan tak lupa stok mie instant buat pengganjal perut. Masak mie nya juga tak perlu repot, tersedia microwave (dan kulkas) hampir di setiap departemen. Di SLI, Microvawe diletakkan di pantry eksekutif dan bisa dibilang telah meraih status pajangan. Sepanjang berbulan-bulan saya bekerja disana, tak pernah sekalipun microwave tersebut digunakan. Mendengar cerita saya, ada yang komentar bahwa sudah sewajarnya makin besar kantornya, makin bagus suguhannya. Benar juga sih, tapi apa SLI tidak kurang besar? Pada akhirnya saya berpendapat bahwa kebijaksanaan kopi di kantor sebetulnya berpulang pada kemampuan perusahaan tersebut menghargai karyawannya. Dari pengalaman saya malang melintang di dunia kerja, baru saat diterima di PWC saya merasa dihargai sebagai karyawan. Karyawan bukan hanya dianggap sebagai pekerja yang tugasnya hanya bekerja, namun juga sebagai individu yang butuh perhatian dan pengembangan diri. Percayalah, hal-hal seperti ini dapat terlihat dari kebijaksanaan kopi dari masing-masing kantor. Tidak percaya? Coba saja analisa kantor anda masing-masing…. Pagi ini mama menelpon saya di kantor… Awalnya saya pikir Mama hanya akan memberitahukan sesuatu yang tidak penting seperti biasanya (Sering kali Mama menelpon hanya untuk bercerita tentang perilaku PRT yang mama anggap kurang sesuai atau masalah kandang burung tetangga yang menempel di tembok mama). Tapi telepon ini ternyata berdampak cukup besar untuk hari ini. Mama menelpon untuk mermberitahukan bahwa Tetem, kucing rumah Mama meninggal dengan tenang pagi ini. Sekilas saya mengingat perjalanan hdup Tetem, kucing yang akhir-akhir ini memang luar biasa kurus. Namun kami berpikir itu sebuah hal yang wajar, mengingat usianya yang mencapai 9 tahun lebih) dimana berdasarkan situs ini usia Tetem sudah setara dengan usia manusia 52 tahun. Tetem lahir pada tanggal 12 Agustus 1998, di hari yang sama saya mendaftar ulang di UI setelah berhasil lulu Ujian UMPTN di salah satu jurusan di FISIP. Induk Tetem namanya Sasa, seekor kucing jalan berbulu hitam yang dipungut oleh kakak laki-laki saya saat usianya kira-kira 1,5 bulan. Sasa adalah penangkap tikus yang handal, sejak dia dipungut, rumah Mama jadi bebas tikus dan seringkali kami menemukan bangkai tikus-tikus bahkan darah tikus yang berceceran sebagai tanda perburuannya dimalam hari. Sasa melahirkan 4 ekor anak kucing di rumah Mama, dan setelah anak-anaknya besar ia bisa dibilang minggat dari rumah, tidak mau pulang ke rumah mama, justru pulang ke rumah tetangga. 2 saudara seangkatan Tetem dipungut oleh teman dekat saya dan karena saya tidak lagi berhubungan dengannya, saya tidak tahu menahu tentang keberadaan mereka. Saudara kandung Tetem yang satunya, dinamakan Tokek. Tokek sama seperti ibunya, merupakan penangkap tikus yang handal. Saking handalnya sampai-sampai tikus di lingkungan rumah mama punah dan ia harus berganti hewan buruan menjadi burung dara dan ayam tetangga. Sering kali saya membersihkan sisa-sisa bulu ayam/burung di halaman sebelum ketahuan tetangga saya. Keahlian inilah yang membuat nasib Tokek tak ketahuan rimbanya. Dia menghilang di suatu hari tanpa jejak. Sehari sebelumnya dia seperti ketakutan akan sesuatu. Perkiraan keluarga saya mengatakan bahwa dia dikejar-kejar oleh para pemilik ayam dan burung di lingkungan sekitar yang merasa dirugikan. Satu hal yang saya ingat tentang Tokek adalah dia sayang sekali dengan adiknya Tetem. Kalau lagi tidur bareng, Tokek sering menjilati Tetem sampai Tetem tertidur pulas keenakan. Kembali ke Tetem, sejak kecil merupakan kucing yang manis, manja dan menggemaskan. Tetep juga kucing yang sangat setia. Dulu Tetem sering sekali menemani Almarhum Papa duduk-duduk di teras, tidur, bahkan mengikuti papa ke warung sebagaimana layaknya seekor anjing. Saat papa meninggal, saat pengajian 7 hariannya Tetem seakan-akan mencari Papa ke segala penjuru rumah. Dia mengeong sekuat-kuatnya seakan memanggil-manggil dan menangis. Ia memasuki setiap sudut rumah mama tanpa melewati satu sudut pun. Tetem juga merupakan kucing yang angkuh. Jika kebetulan kita memiliki seekor kucing lain, maka Tetem akan memperlihatkan sisi angkuhnya kapanpun di depan peliharaan pesaing itu. Kalau si pesaing mencoba berbuat sesuatu yang tidak terpuji seperti naik ke atas meja makan mencoba mencuri makanan, maka Tetem tidak akan ikut-ikutan. Dia hanya akan memandang pesaing dengan tatapan penuh celaan tersirat. Tetem lebih suka mengemis dan meminta makan secara terbuka daripada mencurinya. Seorang teman saya yang pernah melihat muka Tetem di saat-saat seperti ini memujinya sebagai kucing Cleopatra. Memang menggemaskan. Pembawaan Tetem sebagai kucing yang baik hati juga menyangkut masalah makanan. Tetem lebih suka mengemis makanan ketimbang mencurinya. Pada saat-saat tertentu jika Tetem ternyata mencuri makanan, itu artinya dia sudah sangat lapar, atau orang rumah tidak sadar akan teriakan minta makannya. Kalau ini kejadiannya, kami sama sekali tidak bisa marah dengan Tetem. Kami justru merasa berdosa karena telah lupa memberikannya makanan sampai Tetem harus mencuri untuk mengisi perut. Tetem juga tidka terlahir sebagai pemburu, jadi kalau mendadak dia muncul dengan bangkai tikus, juga berarti dia kelaparan. Sebab Tetem tidak cocok makan tikus, beberapa lama setelah makan tikus dia pasti akan memuntahkannya kembali. Hari ini, 27 Pebruari 2008 Tetem tutup usia. Dia telah mencapai usia 9 tahun, 6 bulan dan 15 hari. Belakangan ini terus terang saya pribadi sudah bertanya-tanya kapankah Tetem mati? Soalnya keluarga saya selalu mempunyai kucing, dan Tetem telah melampaui usia kucing-kucing kita sebelumnya. Para pesaing Tetem yang lebih muda telah tutup usia terlebih dahulu. Setidaknya Tetem meninggal dengan tenang, sama sekali tidak ada bekas cakaran di tubuhnya, dan tidak meninggal di antah berantah seperti biasanya kucing-kucing lain. Dia memilih untuk tidur selamanya di kursi teras, yang sering diduduki oleh Almarhum Papa dengan Tetem menemani disampingnya. Selamat jalan Tetem, semoga perilaku baik mu di dunia sebagai kucing akan diberikan ganjaran yang setimpal oleh Allah SWT meskipun kau hanya seekor kucing kampung biasa…. Jadi pengangguran selama 2 bulan setelah kontrak kerja ku di SLI selesai ternyata tak sia-sia. Di hari Senin, 18 Pebruari 2008 terlihat tulisan “2 missed calls” Di layar HP, pasti berbunyi pada saat mengantarkan 2 keponakan suami ku yang cantik-cantik ke mobil mereka. Deg, rasanya waktu itu detak jantungku bertambah cepat. Nomor yang tertulis jelas-jelas merupakan sebuah nomor dari sebuah kantor dengan sistem hunting. Hampir 2 bulan terakhir ini saya berburu kerja melalui internet. Baru sekitar 3 minggu inilah jadwal harianku dipenuhi dengan interview dan test. Alhadulillah pengalamanku kerja di SLI cukup menjual, karena beberapa MNC menghubungiku. Namun ada sebuah firma audit yang cukup membuat hatiku kepicut. Kenapa? Selain menjadi firma audit No.1 di dunia, firma ini tidak pelit masalah benefit karyawannya (sebuah fakta yang baru saya ketahui saat interview). Status karyawan boleh kontrak, tapi benefit tidak beda dengan karyawan berstatus permanent. Terlebih lagi masalah asuransi kesehatan dimana anak dan suami/istri ditanggung, tanpa terkecuali. Pengalaman kerja saya dimana-mana, karyawan perempuan biasanya dianggap sebagai single, atau kalaupun ditanggung asuransi kesehatan keluarga, suami tidak termasuk. Bagaimana tidak kepincut, walaupun posisi yang ditawarkan bisa dibilang turun pangkat, dari sekretaris menjadi admin, tapi benefit yang ditawarkan oleh firma ini cukup menggiurkan. Jauh lebih baik daripada di SLI malah. Masalah gaji, prinsipku saat itu cuma 1; cukup untuk menambah dana operasional sehari-hari rumah dan tabungan keluarga. Syukur-syukur kalau bisa menyiapkan sebuah tabungan khusus untuk pendidikan Akhtar. Pertama-tama saya dipanggil test pada tanggal 5 Pebruari untuk test tertulis. Test nya ternyata merupakan test bahasa Inggris dan Logika Dasar. Melihat banyaknya peserta test, nyali ku sempat ciut. Apalagi kebanyakan dari mereka yang apply posisi ini masih muda-muda dan belum menikah. Jadi selesai test, saya mencoba tidak terlalu berharap. Seminggu kemudian ternyata saya dipanggil untuk mengikuti Technical Test pada tanggal 13 Pebruari. Berhubung masih asing dengan istilah ini, saya menghubungi temanku yang bekerja pada bagian HRD salah satu bank asing di Jakarta. Ternyata test ini maksudnya test kemampuan teknis kita dalam tugas kandidat sehari dalam menjalankan perannya dalam posisi tertentu, dan melihat dari posisi yang saya apply test nya kemungkinan besar berupa test komputer. Tidak ada persiapan khusus untuk menghadapinya, saya hanya berdoa. Di tempat ternyata jumlah peserta yang lulus test tertulis dan maju ke babak berikutnya tinggal 4 orang. Kami diminta untuk mengetik ulang beberapa dokumen dalam MS Word, Excel dan PowerPoint. Seharusnya tugas ini gampang, tapi entah bagaimana saya membutuhkan waktu lebih lama untuk mengerjakannya. Walhasil saya kembali tidak terlalu berharap selesai test ini. Karena hari itu saya ada Interview di sebuah Marketing Research Company sorenya, saya memilih untuk makan siang dengan beberapa teman saya yang kebetulan berkantor di sekitar kuningan. Sore itu, mungkin karena sudah lelah, interview ku di perusahaan ke dua ku rasakan tidak berjalan dengan baik. Jadi saya pulang dalam keadaan lesu, tahu bahwa saya telah gagal di perusahaan tersebut. Dalam perjalanan pulang, ternyata saya sudah ditelepon lagi oleh Firma XXX, memberitahukan jadwal interview pada hari Jum’at tanggal 15 Pebruari. Sedikit penghiburan buatku yang sedang lesu dan kehilangan semangat. Besoknya saya ada interview di sebuah perusahaan farmasi di daerah Sudirman. Interview ini saya bisa bilang berjalan cukup baik. Sorenya Alhamdulillah saya ditelpon untuk menghadiri sebuah jadwal interview lagi di sebuat perusahaan asuransi di daerah Surirman pada tanggal 19. Sore ini diwarnai dengan penyesalan, karena di dalam inbox email saya ada sepucuk email penolakan dari perusahaan marketing research. Sedih sekali, Tampaknya hal ini membuat rasa percaya diri ku sebagai seorang pencari kerja drop. Kalau misalnya mereka justru tidak memberi kabar apapun, saya secara otomatis tahu kalau saya gagal, tapi menerima surat penolakan…. Serasa ada yang nimpuk dari belakang tepat ke kepala kita. Tibalah saat interview di firma XXX, walaupun sebetulnya tingkat rasa percaya diri ku masih terpengaruh dengan surat penolakan, saya tidak lupa berzikir sepanjang perjalanan meminta pintu rejeki ku dibuka. Sesampai disana saya diminta untuk menunggu di sebuah ruangan rapat yang apik. Tak lama datang dua bapak-bapak yang nantinya akan menjadi atasan bagi kandidat yang terpilih. Terus terang saya agak kaget saat interview. Sebab segala pertanyaan standar interview yang telah mati-matian ku hafalkan tidak ada yang keluar sama sekali. Alih-alih mereka malah menanyakan berbagai hobby dan kebiasaanku. Ternyata, di firma ini, jika sudah mencapai tahap Interview, mereka sebenarnya mencari kandidat yang dianggap “sejiwa” dengan user. Jadilah saya kembali pulang dengan perasaan tak menentu, kayanya gagal lagi nih…. Akhir pekan itu saya habiskan dengan teman dan keluarga sepuasnya. Saya sudah pasrah. Yang penting saya sudah berusaha dan berdoa, tetap saja yang menentukan adalah Allah SWT. Mungkin saya harus berdoa lebih tekun daripada saat itu. Hari senin pagi saya menelpon rumah kakak ipar saya, mau janjian di rumah eyang siang ini supaya Akhtar bisa main-main dengan Kayla dan Shayna. Siang itu tentu saja sangat ramai. Akhtar yang sibuk teriak-teriak, dan kakak-kakaknya yang tidak kalah antusias mengajak Akhtar bermain. Memang Akhtar mereka anggap sebagai boneka kecil. Selama itu, saya berkali-kali mencek HP saya di tas, seakan-akan mengharapkan sebuah telepon penting. Saya berharap sekali mendapatkan telepon dari Firma XXX, namun disaat yang sama bersiap-siap menerima sebuah surat penolakan lagi di dalam inbox saya dalam minggu ini. Jam 3 sore sudah tiba saatnya Kayla dan Shayna pulang, saya mengantarkan mereka menuju mobil dan masih sempat menggoda mereka seperti biasa. Begitu mereka pergi, saya seperti dipanggil, bergegas mengecek HP saya di dalam tas. Benar saja, 2 missed calls tertulis di layarnya. Dengan tangan sedikit bergetar, saya menghubungi nomor yang tertera di HP saya. Begitu tersambung, terdengarlah bunyi: “Thank you for calling PricewaterhouseCoopers…” kata-kata selanjutnya hilang dalam memory saya, saya memencet 0 untuk bantuan operator dan minta dihubungan dengan Ibu Maria di bagian HRD. Selanjutnya sudah bisa ditebak apa isi pembicaraannya. PwC meminta saya untuk mulai bekerja secepat mungkin dan saya meminta 2 hari untuk saya bersiap-siap secara pribadi dan disepakati hari pertama saya masuk adalah tanggal 21 Pebruari 2008. Selamat datang orang baru di PricewaterhouseCoopers…. | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Other | | Location: | Jl. Raya Inpres, Kampung Tengah, Jakarta Timur |
Awalnya saya datangi setelah beberapa bulan cuma penasaran dengan makanan yang diberi judul Bakso Raket. Ternyata Bakso raket itu adalah bakso gepeng yang dibakar. Mie yang digunakan adalah kwetiau dan disajikan terpisah dengan bakso bakarnya. Pada saat mau makan saya sampat berpikir makan bakso koq seperti makan steak (penyajian bakso di atas piring dan terpisah dari Mie dan kuahnya). Setelah merasakan bakso bakar, saya harus mengakui kenikmatannya. Sebelum dibakar, bakso tersebut telah dibumbui dengan madu sehingga bakso tersebut terasa manis-manis sedap!!! kalau ada kesempatan lain, saya tidak keberatan makan di tempat ini lagi. Tapi menigingat porsinya yang lumayan kecil, bagi yang mencari makanan utama, sebaiknya memilih makanan lain daripada bakso bakar.
Tips: Jangan memesan Bakso Bakar Keju, sebab hanya ditambahi parutan keju diatas bakso yang telah dibakar. Tanpa irisan keju, Bakso Bakar ini sudah cukup lezat dan membuat kita berpikir untuk memesan 1 porsi lagi. | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Other | | Location: | Jl. Raya Inpres, Kampung Tengah, Jakarta Timur |
Awalnya saya datangi setelah beberapa bulan cuma penasaran dengan makanan yang diberi judul Bakso Raket. Ternyata Bakso raket itu adalah bakso gepeng yang dibakar. Mie yang digunakan adalah kwetiau dan disajikan terpisah dengan bakso bakarnya. Pada saat mau makan saya sampat berpikir makan bakso koq seperti makan steak (penyajian bakso di atas piring dan terpisah dari Mie dan kuahnya). Setelah merasakan bakso bakar, saya harus mengakui kenikmatannya. Sebelum dibakar, bakso tersebut telah dibumbui dengan madu sehingga bakso tersebut terasa manis-manis sedap!!! kalau ada kesempatan lain, saya tidak keberatan makan di tempat ini lagi. Tapi menigingat porsinya yang lumayan kecil, bagi yang mencari makanan utama, sebaiknya memilih makanan lain daripada bakso bakar.
Tips: Jangan memesan Bakso Bakar Keju, sebab hanya ditambahi parutan keju diatas bakso yang telah dibakar. Tanpa irisan keju, Bakso Bakar ini sudah cukup lezat dan membuat kita berpikir untuk memesan 1 porsi lagi. Saya rasa judul diatas cukup menggambarkan apa yang Pemerintah Malaysia lakukan dengan mengadaptasi Reog Ponorogo menjadi Tari Barongan. Hahahahaha… orang bisa ngakak mendengar tarian tersebut diakui oleh Pemerintah Malaysia telah menjadi budaya rakyat Malaysia asli. Bukti nyatanya apa? Lha wong Dadak Merak nya saja masih diimport dari tanah Jawa  Pemerintah Malaysia belakangan nampaknya tergopoh-gopoh mencoba menciptakan Budaya Malaysia terhormat mereka. Sialnya mereka nampaknya memang tercipta sebagai pemerintahan yang tidak punya daya kreatifitas sama sekali. Lagu Rasa Sayange kemarin teksnya masih sempat lah diganti, Tapi untuk Tari Barongan ini sepertinya mereka dikejar deadline sama Pak Lah, jadi cuma ganti nama dan cerita. Secara fisik semuanya Foto Copy Xerox sama Reog Ponorogo. Pemerintahan Malaysia juga tampaknya sudah mengeluarkan panduan menjawab tuduhan pencaplokan kesenian Indonesia resmi. Rakyat Indonesia kan banyak yang beremigrasi ke Malaysia, wajar sekali jika mereka membawa kesenian mereka ke Malaysia, masa tidak boleh. Wajar sih, tapi seperti layaknya pemain bagpipe di Amerika, mereka tetap mengakui dan mengidentikan bagpipe dengan Scotlandia. Tidak semena-mena melupakan asal bagpipe itu dari mana (atau pura-pura lupa). Lihatlah Amerika, Australia, atau Singapore. Mayoritas penduduk mereka ádalah pendatang. Tapi mereka tidak pernah mencoba meng-klaim kesenian negara tersebut sebagai kesenian yang terpisah dari negeri leluhur mereka. Seakan-akan kesenian tersebut ujug-ujug mendadak tercipta. Di Indonesia juga ada Tari Barongan yang berasal dari Cina, atau Marawis yang berasal dari Arab. Kita tetap mengakui bahwa kesenian tersebut asalnya dari luar wilayah Indonesia. Dan saya yakin, baik pemerintah maupun rakyat Indonesia tidak akan menggunakan kesenian import untuk mempromosikan pariwisata Indonesia, walaupun kesenian tersebut sudah menjadi hiburan rakyat. Tak lama pemerintah Malaysia balik mengancam akan menuntut Pemerintah Indonesia untuk mengakui bahwa Bahasa Indonesia itu sebetulnya bahasa Melayu. Waduh, koq kita yang diancam ya? Ehm…kalau orang Malaysia belajar sejarah, mereka akan mendapati bahwa etnis melayu itu, asal muasalnya dari Sumatera. Coba buka peta dan lihat Pulau Sumatera. Pulau sebesar itu semuanya ada di wilayah Indonesia. Lantas apa salahnya kalau bahasa Indonesia berdasarkan bahasa melayu? Lha wong memang milik Indonesia koq. Lagipula Sejak diputuskan sebagai Bahasa Indonesia di tahun 1928, bahasa Indonesia sudah mengalami perkembangannya sendiri. Mengadopsi berbagai kosa kata daerah dan asing. Kemudian Bahasa Betawi menyumbangkan cukup banyak kosa kata gaul seperti lu, gue, bokek dan sebagainya. Lucunya, akibat musik Indonesia yang sukses besar di Malaysia, bahasa gaul ini mulai digunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari oleh orang-orang Malaysia. Apa lantas bahasa gaul ini suatu saat akan diakui sebagai bahasa melayu asli? Lucu kan. Bisa sampe nangis tuh ketawanya  Saya yakin, aksi pencaplokan budaya yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia tidak akan selesai sampai disini. Walaupun kemarin Kedutaan Malaysia sudah diserbu oleh 1000 pekerja seni Reog Ponogoro lengkap dengan kostum kebesarannya (yang sudah jadi komoditas eksport ke Malaysia). Dan saya himbau kepada pemerintah Indonesia yang terhormat, untuk melakukan langkah konkrit sehingga Malaysia mengerti keberatan kita dan tidak menggunakan kesenian asli Indonesia sebagai sarana untuk mempromosikan pariwisata mereka. Kalau cuma mau menari Reog atau menyanyi Rasa Sayange tiap hari tidak masalah. Tapi ingat, kembangkan budaya Malaysia sendiri. Bukankah di Malaysia kalau tidak salah ada Festival Thaipussam yang terkenal itu? Promosikan dong, jangan cuma melirik ke halaman tetangga (walau kali ini, rumput tetangga mungkin memang lebih hijau ) | Make Me Lose Control | | Billboard Top 100 of 1988 | | Eric Carmen | | | Waiting For A Star To Fall | | Reel Life | | Boy Meets Girl | | | Me - U = Blue | | Glenn Medeiros | | Glenn Medeiros | | | Only You | | Upstairs At Eric's | | Yazoo | | | Starship - Nothing Gonna Stop Us Now | | | | | | | Take My Breath Away (Theme) | | Top Gun | | Berlin | | | I Wanna Be Rich | | I Wanna Be Rich | | Calloway | | | Gregorian - Once In A Lifetime | | | | | | | You Can Do Magic | | View From the Ground | | America | | | Forever Young | | Forever Young | | Alphaville | | | Together in Electric Dreams | | The Very Best of the Human League [Caroline] | | Human League | | | Let's Groove Tonight | | | | Earth wind and Fire | | | Forever Your Girl | | Forever Your Girl | | Paula Abdul | |
Since the Indonesian Mass Riot of 1998, people around the world consider Indonesian a racist people. I don’t blame them for that label, because I know a lot of Indonesian is prejudiced against Chinese community here. Can’t blame them either for being that way, the Suharto Regime did put Chinese more favourable in business. A lot of people complains about how their loan application are rejected by the Bank, but rarely a chinese loan application ever rejected. During the Riot, i never could understand why did the people hate the chinese so much. But after a lot of thinking, I do realize few details of my life that made me who I am, why I am not prejudiced against them when a lot of people do (even my own brother is still prejudiced against chinese). To understand that, I have to tell you the history of my family too. I am the third and last child in the family. My dad works for the government while my mom is a common housewife (apart from the splendid cooking's). My dad works has made us move a lot around Indonesia. I spend my childhood in Pontianak, the capital city for West Kalimantan (Borneo). Before I went to elementary, we moved to Jakarta and after 5 years, moved again to Batam Island. I only stayed in Batam for about 3 years and then my parent decided I should move to Jakarta since the education level is better there. When I was in Pontianak, we have a lot of Chinese acquaintances through my dad work. Since the ethnic majority in Pontianak consist of Malay, Chinese, Dayak, and Madura, this is not a very strange. We used to go to smaller city around Pontianak like Mempawah. There, we often sees Chinese community who live on poverty. We usually buy stuff that they brought across the Malaysian borderline and sell it for a small profit in Indonesia. Mt mom bought a lot of dinnerware there, she still keeps it till now. Then when I lived in Batam, things are a bit hard for my family. My father salary is barely enough to live in Batam Island high cost living expenses, let alone set a sum of money that my eldest sister need to continue her education after she finished high school (she’s living with our uncle in jakarta). Then my mom decided to raise the money by agreeing to become the canteen lady in my dad’s office. At that time, it was quite a shock for my dad office, because my dad was considered a high ranking officer. But if she didn’t do it, I don’t think my dearest sister could continue her studies. When she did manage the canteen, we are are often being visited by a poor Chinese man who would sell us anything he can find in the woods. If he finds some cassava leaf, he would come to the canteen and only ask a small a mount of money and a free lunch. If he find some ripe fruits in the woods (which nobody belongs to), he would also find his way to my mom’s canteen. He ask for a higher price for fruits though, since the price is already high in batam Market. But it is still a good bargain. At that time, I was in Junior High, and I ended up having the only chinese girl in my year as one of my best friend. Actually, there’s only 2 chinese in my year, the other is a boy. We really hit it off great from the start and we never did loose any contact even after I moved out of Batam and she moved to Taiwan... In fact, the only time we met after we separated is only in 2005, when she accompanying her grandma back after visiting her mom in Taiwan. Until now, 15 years after we met, we still consider each other as best friend. During our years, I remember one time she almost burst into tears when she said how grateful she is that I was willing to be her best friend. Of course I don't understand what she means, because to me, she’s a very good friend. And so come the sad story of her life. She was not originally grow up in Batam like a lot of Chinese here. She just come to Batam about 3 years earlier. Where did she come from before Batam? Mempawah. Yes, the little town that I used to visit during childhood, where there’s a quite large poor chinese community. She told me how poor she was there, and that her father is a drunk gambling man. Her mother first ran away to Batam after she can’t take the beating and the poverty. From there, she started to save money until all her children moved to Batam. But my friend didn’t have an easy live when she moved to batam. She would stay in a relatives home, and helping out wherever she can with the housework or if the relatives happens to have a business. She moves in and out of one relatives house to the other quite frequently.
She find herself work right after finishing vocational school (equal to High School). After that, I can say she lived better. Together with her older brother she rent a small house so that her little brothers don’t have to wandering from one relatives to the next. Her mom already left for Taiwan at that time, to find a bigger income for the family. After a few years, her mom married a Taiwanese. Not long after, she visited her family and moved her younger kids to Taiwan with her. My friend followed after a while but not to work, but to studied mandarin. Of course, my friend is not the lazy type and soon enough find herself a job to pay her education there. She still there, juggling between studying and working part time to support herself. If she find’s the time, we would chat over the internet and remembering yesteryear's, our secret hide out in the bushes surrounding our school, the boys we have crush on, and our life today. So what did my story tells you that makes me unprejudiced against Chinese? Can you guess it? The two Chinese in my story kind of opened my eyes that not all Chinese are rich like many that we sees owning a store in the market. In other word, Chinese is just human being, just like me and you. But you can say they have higher determination than the rest of us. Not easily give up and complains. How many Indonesian have the opportunity of knowing this fact of life? Little. Even my own brother didn’t have such luck. That’s why he’s still prejudiced against Chinese. Another point is the way Chinese almost always put their children in a private school. It makes their children only befriends with other Chinese children or children from the same social class. It deprived us, the majority of indonesian Children who went to public school of having a chinese as one of our friend and the only Chinese we know is the one owning the shops and stores in the market and malls. A lot of Indonesian, when they think of Chinese, can only remember them as rich people, usually have a business of their own and having their children goes to a private school. Sometimes, I feels like I have been given a lot by God because I have the chance of knowing my dear friend. Unlike the Chinese majority in Indonesia, she didn’t went to a private school. She goes to public school just like me. If you lived in Indonesia long enough, you would know how rare that is. Except if you are living in an area where there’s a large Chinese people reside like around Mangga Dua If only more Chinese fully understand the benefit of putting their children into public school, I am sure many prejudiced Indonesia would slowly open up their eyes just like me. Of course, it’s not without trouble. Because the stigma of rich people are attached to Chinese, a lot of Chinese refuse to go to public school because they threatened with bullies (in relation of asking for money) from the school’s bullies. Is such a vicious circle. Many Indonesian believe Chinese are always rich, so a lot of Indonesian youngsters bullying their Chinese friend at school and asking for money. Chinese Parents, feels this is not good, so they moved their children to a private school. If this continue, the illusions that all chinese are rich will never be broken and The few irresponsible Indonesia, who never knew any Chinese will always believe they are all rich.. It took a lot of courage, for Chinese to willingly put their children into public school. I mean, the public schools usually don’t have much to offer and they have to face the bullying issue. But if they did it, they earn big time, in the form of future understanding between Chinese community and the so-called native Indonesian (Psst…I let you in on a secret, me myself have a Chinese blood from my maternal great grandparents. They came all the way from Peking). Since my dearest sister introduce me to the world of this blog, I can’t help but check it up for the latest comments on several Indonesia-Malaysia relation posting few times a day. It all started when The Malaysia Tourism Board (MTB) decided to use the famous well known folksong of Indonesia called “Rasa Sayange” as their tourism promotional jingle. We, Indonesian who feels that the song is a part of Indonesian culture were shocked. I mean, we don’t mind if the Malaysians wants to sing along in daily life, but using it to promote something which by any case, doesn’t represent the country of origin is just too much. So I ended up being one of the person who frequently gives comments to the postings. I am no expert on a lot of things, so I only gives comments based on common sense, because I am a common person. Beside me, there’s a few person who gives a lot of comments too. Michael Chick is an American (I think) who has studied in depth of anthropology point of view are always tried to gives facts to support anything he said. And then there’s kamarul...(oh dear). I don’t know his problem, but he always ended up arguing with each other, even his fellow Malaysian. He is just too damn stubborn. Maybe because he has nothing to do (imagine, a med student don’t have anything to do, wonder what happen to his patients in the future). I like how Michael Chick put things in a clearer view for me. He said, actually most Malay’s are from Indonesian descent. Be it from Aceh, Jawa, Bugis, Palembang, etcetera. But somehow, after 1 generation, they usually having mass amnesia about from where did they come from. Malay considered themself more dignified than Indonsian, so they kind of in a state of denial of having any relation with any indonesia. If only they would acknowledge that the song originated in Moluccas, and that Moluccas is IN FACT a part of Indonesia, and that a lot of their citizen IS the offspring of many (once) Indonesian immigrant, maybe they do have a reason in using the song. But the problem is, they refuse to be called coming from Indonesia. As far as they are concerned, they are the Bumuputera, land of soil, the first to occupy the archipelago. The first MY ASS. Even the indonesian never feel ashamed that we are not the first. So what’s up with them??? Even claim that they are the race of Malay. I’ve never heard such a riddiculous statement. Did the Malaysian constitution maker skip high school or something?? Because I still remembers my teacher explained the race subject and there is no such thing as Malay race. I may be wrong, but most indonesian are brown skinned due to the mixing of mongoloid and the negroid. But maybe the malaysian are juat TOO DAMN PROUD to accept that. Well, if you can accept the fact, maybe you shouldn’t use the song in the first place. Hari Senin ini semua libur lebaran berakhir sudah. Buat penduduk Jakarta, ini hanya berarti satu hal: Macet...!!! Yah, nampaknya penduduk Jakarta dan sekitarnya harus pasrah akan kenyataan bahwa kita itu sebetulnya “tua di jalan”. Bagaimana tidak.. tanya saja semua tenaga kerja di seantero Jakarta, apakah mereka menemui macet setidaknya 1 kali dalam perjalanan ke kantor setiap hari? Jawabannya 99% pasti ya. Sedangkan yang 1% itu adalah segelintir orang yang beruntung memperoleh pekerjaan dalam radius 2-3 Km dari rumah mereka atau memang lagi nginap di kantor  Saya yang membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke tempat kerja saja sudah merasa sangat beruntung tidak perlu mengalami “tua di jalan”. Bagaimana nanti pada saat saya kerja di tengah kota Jakarta ya? Makanya dalam tiap wawancara kerja di tengah kota Jakarta, saya selalu meminta imbalan yang cukup fantastis untuk ukuran saya dan suami. Perhitungannya adalah waktu, dan waktu tidak bisa dibeli. Mungkin juga itu alasannya sampai sekarang saya belum memperoleh “that high paying job”? Oh well, belum rejeki kali ya? Kemudian selama beberapa tahun terakhir ini kan saya selalu menginginkan kerja di sepanjang jalan TB. Simatupang. Soalnya deket sekali. Saya cuma perlu naik angkot 2 kali paling-paling sudah sampai. Tapi ternyata..... Akibat kebijakan tarif satu harga pada JORR (jakarta Outer Ring Road) ruas Jalan TB Simatupang mulai berkenalan dengan yang namanya kemacetan pada rush hours. Jika dulu untuk menghindari 1 traffic light saja orang mau masuk tol karena tarifnya paling hanya Rp 1000 – 1500, maka sekarang tidak lagi. Sekali masuk tarifnya Rp 6500, membuat banyak orang berpikir dua kali untuk masuk tol haya untuk menghindari 1 traffic light. Saya sempat mencicipi macetnya TB Simatupang pada rush hours waktu ada meeting di Elnusa dan dalam perjalanan menuju PIM untuk buka bersama dengan teman kuliah. Rasanya? Hm.... Lebih parah daripada macet di lingkar Sudirman – Thamrin – Kuningan. Mungkin karena jalannya memang jauh lebih sempit (hanya 2 jalur!!!), dan tidak ada pemandangan yang cukup bagus sebagai hiburan. Saya Cuma bisa termangut-mangut bermimpi, kapan ya jakarta bisa bebas dari macet, atau setidaknya memiliki sarana angkutan massal yang bebas macet. Busway Cuma membantu sedikit dalam mengurangi kemacetan Jakarta. Bahkan, alih-alih mengurangi kemacetan, Busway banyak dikutuki oleh para pengguna mobil pribadi karena keberadaan Busway sudah pasti mengurangi 1 jalur jalan yang biasa digunakan oleh para pengguna mobil pribadi. Buat penduduk Jakarta yang belum memiliki mobil sendiri, Busway boleh lah sebagai usaha untuk memberikan kesempatan bagi kita sarana transportasi yang bisa menembus kemacetan. Yang pasti... TOLOOOOOONGGGGG...............!!!!!!!!!!!!!! Macet telah tiba Macet telah tiba Oh Nooo... Oh Nooo.... Oh Nooo...!!!!! (Dengan irama lagu anak-anak Libur telah tiba) Ibu jaman sekarang itu kebanyakan merupakan ibu yang bekerja di luar rumah. Akibatnyanya Kita menjadi tergantung pada para pengasuh dan pembantu yang membersihkan rumah kita, merawat anak kita disaat kita berada di luar rumah. Tentu saja kita mencoba mencari cara untuk merasa bahwa kita masih berkuasa di rumah kita dengan menetapkan berbagai aturan yang diberlakukan dan wajib ditaati oleh para pembantu dan pengasuh. Hal semacam ini membuat kita merasa lebih baik dengan diri kita sendiri pada saat kita tidak berada bersama sang buah hati. kalu mau jujur sih termasuk dalam usaha kita untuk tidak terlalu merasa bersalah telah meninggalkan kewajiban membesarkan anak kita di rumah.
Dampak pembantu mudik di rumahku terutama adalah menghilangnya tenaga untu beberes rumah. Apalagi dengan usia Akhtar yang sudah hampir 13 bulan dan bisa berjalan. KAPAL PECAH adalah satu-satunya kalimat yang bisa menggambarkan kondisi rumah. Mainan Akhtar berserakan dimana-mana karena itulah hobynya si bayi lucu. Saya sampai lupa, kapan ya terakhir lantai rumah dipel???
Satu dampak tidak langsung adalah Akhtar yang mogok Home Made Food. Kata kakak iparku anak kecil memang sering mogok makan kalau orang yang terbiasa menyuapi tidak ada. Mengingat saya sekarang sudah kerja, berarti saya hampir tidak pernah menyuapi Akhtar. Pas weekend? itu waktunya aku dan suami mengurus hal-hal lain yang tidak bisa diurus di hari-hari biasa seperti belanja, jadi sulit juga menyuapi Akhtar. You don't agree? So sue me.... Tapi untuk masalah Akhtar sulit makan selama libur Lebaran ini masih bisa dimaklumi dengan kenyataan bahwa dia mau nambah gigi jadi 2 (baru 2 aja bangga....). Sudah hebat dia tidak pake acara demam seperti banyak anak-anak lain, jadi mungkin kompensasinya adalah keengganan Akhtar untuk makan karena gusinya sakit. Lha wong orang dewasa saja bisa sampai tidak masuk kerja saat gigi bungsunya muncul. Walhasil beberapa hari terakhir ini sang ibu terpaksa menyerah pada makanan tidak sehat, yang biasanya tidak pernah terpikir untuk didekatkan dengan Akhtar...Asalkan anaknya mau makan seperti kastengel (kan asin??), kue kacang (manisnya minta ampun), astor, dan berbagai junk food yang hanya boleh dimakan sama orang yang sudah punya kesadaran penuh.
Dengan berat hati disuapi makanan yang tidak sehat pun, Akhtar masih bisa berulah dengan mengemut makanan. Kejadian ini berarti : 1. Akhtar sudah bosan dengan makanan itu, tolong diganti dengan makanan tidak sehat lagi 2. Akhtar tidak mau makan sama sekali, walau sudah dipiting...hanya akan dikeluarkan kembali melalui batuk atau bersin (oh tidak...) Jadilah ibunya jungkir balik membujuk Akhtar untuk mau memasukkan sesuap makanan yang bernilai gizi minimal. Perasaan kalau ada pembantu Ibunya bikin peraturan tiap hari Akhtar harus makan sayur. Brokoli merupakan makanan wajib. Huh.... Ternyata tidak mudah menjalankan peraturan sendiri ya. Pengasuhnya Akhtar itu hebat.
Kalau dipikir-pikir, mudah sekali kita, para ibu yang bekerja menetapkan berbagai peraturan bagi pengasuh anak kita tentang bagaimana membesarkan anak kita. Tidak boleh makan makanan yang terlalu manis, terlalu asin, tiap hari harus makan sayur, makannya harus 3 kali sehari, dan sebagainya. Kenyataannya pada saat sang pengasuh pulang kampung, justru sang Ibu, yang telah memberlakukan pola makan sehat buat anaknya mati kutu, tak berkutik, makanan yang tadinya haram masuk ke mulut anak akhirnya masuk juga. Semua dengan satu alasan utama: yang penting ada yang masuk, ga perut kosong seharian. Orang Indonesia memang paling pinter buat peraturan. Pelaksanaannya tergantung orang lain, dan yang melanggar adalah yang membuat peraturan itu sendiri 
Hiks.... maafkanlah ibumu nak, yang bisa menetapkan peraturan pola makan sehat ke semua orang, namun tidak sanggup menerapkannya sendiri. So.... You've read the last book huh? And what does that gave you? Satisfaction? Answers? Or perhaps raise more questions than answer? Well for me personally it still left some questions unanswered. Like why Sirius had to die? What was that mysterious arch that Sirius fell? Harry and Luna definitely heard something from behind the arch. Well, I guess JK has written so many mystery for the previous 6 books, that she can't possibly answer it all in 1 book. Although I find the closure are rather "in a hurry" and soo Hollywood style, the book can not be denied as one of the most exciting book I've ever read, and rank #1 as the most anticipated. There are few things that I find as a surprise. The reason why Snape protecting Harry is one. The other is how the Malfoys turned out. I mean, who could have guessed?! I also really like how Neville turned out to be. It's a sad thing that Lupin, Tonks and Fred had to die. Unlike Mad-Eye who've had a long life, they are still considerably young. For those of you who have been a fan of Harry for more than 10 years, All you can do now it to re-read the series again for your enjoyment. Because I don't think there would be a book to match Harry Potter in the near future. It's a kind of depressing really, knowing that there'll be no more book to wait.  | Guestbook | |
 | mampir yukkkkk.......
NEW UPLOAD sista !!! |
 | Hai...
Mampir yuukkk.... Sale campur2 dari sandal, mini dress,tas, sampai mainan anak.... Sandal fladeo...muraahhh ajaaa...
Thanks ^__^ |
 | nice site.
mampir ya mbak Ada Sajadah Anak Athaya dari bahan katun dengan gambar lucu |
 | cantiq... cobain aromaterapi mau ga.. lavender, greentea, jasmine, rose, sandalwood, chempaka, musk, opium. Vspa ratus, saltbath, sabun aroma, body butter, face mask, masker payudara, burner set, essential oil, stick & cone..
|
 | sis, numpang promo..
mampir ya ke site aku, aku jual aneka parfum for women and men KW 1, KW Super
Aku jg jual produk pelangsing, pemutih, pembesar payudara yg aman, untuk rambut, penghilang luka, pokonya liat2 dl dan bc keterangannya ya.
Harga masi bisa turun..sok atuh di lihat dulu..
Yg mau jd reseller, ditunggu nih kehadirannya..
i will wait for you girls..thx a lot.
|
 | sis, numpang promo..
mampir ya ke site aku, aku jual aneka parfum for women and men KW 1, KW Super
Aku jg jual produk pelangsing, pemutih, pembesar payudara yg aman, untuk rambut, penghilang luka, pokonya liat2 dl dan bc keterangannya ya.
Ada lulur juga loh. ^__^
Harga masi bisa turun..sok atuh di lihat dulu..
Yg mau jd reseller, ditunggu nih kehadirannya..
Aku jg jual baju2 nih, liat dl deh sapa tau tertarik, second and new..
i will wait for you girls..thx a lot.
|
 | Halo, mau promo nih... Ada barang second & baru yg keren dan modis, harga garage sale, banyak yg cuma Rp 35.000,- Silakan lihat di http://mimigaragesale.multiply.comAyo jangan sampai kehabisan... |
 | Salam kenal ^__^ Mampir yuu' Banyak yang baru nih ^__~ |
 | salam kenal ^^ mampir yu k http://beibbee.multiply.com/ disini ngejual baju baby trendi dr brand nova,nary,yolie, teguh...dgn harga terjangkau ^^ |
 | Hai SHOPPING LOVERS… http://Hargamiringdasyat.multiply.com banyak koleksi yang gak bikin KANKER (KANTONG KERING) lho… koleksi kita antara lain ada : - SECOND ROOM ALL @Rp 15.000 !!! - SECOND ROOM ALL @Rp 30.000 !!! - SECOND & NEW murmer !!! - VINTAGE ROOM @Rp 25.000 !!! - SHOES & SANDALS (cewek & cowok) - DRESSESS lovers UNDER 100rb !!! - KEMEJA MARY KATE OLSEN (oversized) ALL @Rp 35.000- Rp 40.000 aja !!! - TAS yang KEREN UNDER Rp 60.000 !!! Langsung aja yah sekarang juga kalian klik http://hargamiringdasyat.multiply.comTHANKS ALL, GBU^^ |
 | Silakan mampir ke BeeDee.. ^_^
Sbenernya dah agak lama sih upload TAS di tag yg judulnya * New Bags On The Blog *
tapi baru sempet promo sekarang nih, kali aja ada yg blom mampir hehe..
mampir ya...
TQ binardinar.multiply.com |
 | yuuhhuuu... ada koleksi baru loh di Lemari Ch@ily.. mampir yaahhh... |
 | Boeken baru update nih. Silakan mampir untuk tahu list lengkapnya ya..... |
| |